Menentukan Ketinggian tanah (elevasi) Dengan Menggunakan Teknologi GPS dan Citra Satelit

Sulitnya memperoleh data ketinggian (elevasi) pada skala besar, dikarenakan peta-peta kontur pada suatu kawasan belum dibuat atau tidak dimiliki sedangkan perencanaan tetap harus berjalan tanpa harus menunggu semua keperluan tersebut tersedia, karena kendala waktu. Pada perencanan kota data-data ketinggian lahan (elevasi) digunakan untuk membuat rencana drainase, dan prediksi terjadinya genangan pada kawasan perkotaan.

Rumusan Masalah
Bagaimana memperoleh data ketinggian lahan (elevasi) dengan cepat dan tepat pada skala besar untuk kebutuhan perencanaan?

Alat dan Bahan yang digunakan
a) PC Intel(R) Core (TM)2 Duo, E4600 @ 2.4 Ghz
b) GPSMap 76Csx
c) Software Mapsource v 6.14.1
d) Google Earth
e) Global Mapper v10
f) Microsoft Office Excel 2007

Tinjauan Pustaka

  1. Mengukur Ketinggian Lahan
    Umumnya standar ukuran ketinggian menggunakan rata-rata permukaan air laut (MSL/ Mean Sea Level). Seperti, ketinggian Gunung Everest adalah 8.850m diatas permukaan air laut (MSL) (Sumber: GPS Measurement Protocol, 2002).
  2. Datum Vertikal
    Adalah suatu permukaan yang dianggap memiliki ketinggian 0 meter dan dipakai rujukan untuk mengukur ketinggian (elevation) yang disebut sebagai Datum Vertikal (Vertical Datum). Kemudian secara tradisional, para ahli lapangan dan pembuat peta mencoba menyederhanakan dengan mendefinisikan permukaan rata-rata air laut adalah 0 meter, karena permukaan air laut (MSL) terbentang di seluruh pelosok dunia (Sumber: A National Imagery and Mapping Agency publication, 1996).
  3. Jenis Model Permukaan
    Terdapat 3 jenis model permukaan di bumi ini: Geoid, Ellipsoid,dan Topographic surface. Geoid adalah pendekatan bentuk fisis permukaan bumi yang dimodelkan secara matematis dan sangat kompleks. Untuk kegunaan praktis geoid dianggap berimpit dengan permukaan air laut rata-rata (MSL) sehingga dianggap memiliki ketinggian 0 m. Ellipsoid adalah suatu bentuk pendekatan model bumi yang dipakai untuk memudahkan baik perhitungan maupun penunjukkan suatu titik di bumi dengan besaran matematika. Topographic surface/ Earth’s Surface adalah yang terlihat secara fisik sebagai permukaan bumi (gambar-1). Kedudukan dan perbedaan ketinggan ketiga model permukaan tersebut adalah sebagai berikut (gambar-2):

Sumber: GPS Measurement Protocol, 2002 dan A National Imagery and Mapping Agency publication, 1996

  • Mengukur model permukaan pada gambar-2 adalah sebagai berikut:
    – Ketinggian permukaan rata-rata air laut (MSL), adalah diukur orthometric secara kasar diatas Geoid (H),
    – Ketinggian Geoid (N), diukur terpisah diantara Geoid dan Ellipsoid dalam besaran minus atau plus,
    – Ketinggian Ellipsoid (h= N+H), adalah jarak diatas atau dibawah ellipsoid dalam besaran plus atau minus. Ketinggian Ellipsoid bisa dikenal juga sebagai Ketinggian Geodetic.

Kawasan Studi Terpilih
Lokasi kawasan memiliki luasan tidak terlalu besar (± 1 Km²), terletak pada L 74’48.46’’ S dan B 11242’21.60’’ T sampai L 75’53.12’’ S dan 11253,33” E, Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan. (gambar-3)

GCP-kuning

Gambar-3. Kecamatan Socah Kabupaten Bangkalan

Pembahasan
Pengukuran ketinggian
Pada rekaman GPS yang dilakukan di lokasi dimaksud selama survey data yang berekstensi .gdb di pindahkan untuk diolah di PC menggunakan MapSource. Ketinggian dari permukaan rata-rata air laut (MSL) pada lokasi pengamatan sejauh 1.9 Km, menunjukkan posisi tertinggi (35.2 MSL) pada jarak 907m dari GCP1 (lihat gambar-4), setelahnya terjadi penurunan permukaan hingga 5m (30.4 MSL) pada jarak 1.84km dari GCP1 (lihat gambar-5).

elevasi-1

Gambar-4. Tinggi permukaan dimulai dari GCP1 ke titik tertinggi

elevasi-2

Gambar-5. Dari titik tertinggi ke GCP-3 (Sumber: GPSMAP76Csx)

Dengan kondisi fisik permukaan tersebut kemungkinan terjadinya genangan terjadi pada (lihat gambar-6).

elevasi-3

Penutup
Kesimpulan.
>> Untuk perencanaan kota pemanfaatan ketinggian permukaan lahan cukup valid (error < 10m) dan akan dapat diketahui dengan cepat dengan menggunakan alat bantu GPS, dengan batas-batas perpindahan naik-turunnya permukaan melalui jalur tracking dan diukur berdasarkan ketinggian permukaan rata-rata air laut.
Saran
>>Pada pelaksanaan konstruksi (teknis lapangan) perlu dilakukaan pengukuran ulang karena tingkat kesalalahan GPS pada pembacaan ketinggian permukaan lahan (elevasi) masih kurang tepat akibat kesalahan (error) yang cukup tinggi.

PUSTAKA
1. Eddy Prahasta, (2008), “ Remote Sensing: Praktis Penginderaan Jauh & Pengolahan Citra Dijital Dengan perangkat Lunak Er Mapper”, Informatika Bandung.

2. Larry A. Wagnet, (2004), “Global Positioning System”, Kompas, 2 April.

3. Soni Darmawan, (2008), “Perkembangan Teknologi GeoInformasi di Indonesia: Global Positioning Sistem (GPS), Remote Sensing (RS) dan Sistem Informasi Geografis (SIG)”, Pusat Penginderaan Jauh, ITB.

4. S. Alhamlan, J. P. Mills , A. S. Walker , T. Saks, ” The Influence Of Ground Control Points In The Triangulation Of Leica Ads40 Data”, The International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, Vol. 34, Part XXX.

5. 7. S. K. Katiyar, Onkar Dikshit , Krishna Kumar, (2002), “GPS for geometric correction of remotely sensed imagery: possibilities after termination of SA”, Asian GPS Proceeding.

6. http://www.garmin.com

7. http://www.navigasi.com/forum

8. http://egsc.usgs.gov/nimamaps/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s